Home Dunia Asia Pasifik Down for Life Batal Manggung di Acara Brutalize In The Darkness Terkait...

Down for Life Batal Manggung di Acara Brutalize In The Darkness Terkait Isu Propaganda Rasisme

SHARE
Down for Life (foto: metal-archives.com)
Down for Life (foto: metal-archives.com)

Bogor– Band Metal asal Solo, Down for Life, mengundurkan diri dari gelaran Brutalize In The Darkness yang diprakarsai event organizer milik paranormal Ki Gendeng Pamungkas (KGP). Acara akan dilaksanakan pada (10/5) tersebut rencananya menampilkan band black metal veteran asal Norwegia, Gorgoroth.

“Kami memutuskan MUNDUR dr acara Brutalize in The Darkness di Bogor tgl 10 Mei 2015 sampai ada klarifikasi dr panitia ttg propaganda rasisme,” demikian akun Twitter resmi Down for Life.

Vokalis Down for Life, Stephanus Adjie mengatakan bahwa pengunduran diri mereka semata-mata murni karena tidak ingin menjadi bagian dari acara yang menyebabkan kebencian terhadap suatu etnis.

Poster acara yang akan diselenggarakan di Stadion Padjajaran Bogor, Jawa Barat, itu menampilkan musisi metal papan atas dunia seperti Disavowed yang berasal dari Amsterdam, Belanda. Band-band lokal yang ikut tampil antara lain Kedjawen, Dajjal, Burgerkill, dan Down for Life. Tiket yang ditawarkan adalah Rp25 ribu, tergolong sangat murah untuk konser dengan line-up musisi-musisi berskala internasional.

Namun, pada Senin (9/3), di laman Facebook Ki Gendeng Pamungkas ada sebuah postingan yang mengatakan bahwa pada konser Brutalize In The Darkness mendatang akan dibagikan kaos bertuliskan “Anti Cina”. Di akhir pengumuman itu, ada keterangan bahwa postingan tersebut nantinya akan dihapus pada (10/3) pukul 00.00 WIB.

Sebelum pengumuman tersebut dihapus, seseorang telah mengambil gambar postingan kontroversial tersebut dan menyebarkannya ke publik. Isi postingan meresahkan tersebut membuat Donny Anggoro berinisiatif membuat petisi online di Change.org. Isi petisi tersebut itu adalah menuntut pemerintah atau lembaga berwenang terkait HAM memeja hijaukan KGP karena dinilai blak-blakan menyebarkan hasutan dan kebencian terhadap etnis Tionghoa, khususnya kepada anak-anak muda melalui penyelengaraan acara musik yang sebagian besar didanainya itu.

Ketika dikonfirmasi oleh Rolling Stone Indonesia via telepon, KGP mengatakan bahwa dirinya tidak pernah membuat pengumuman tersebut dan merasa hal itu adalah ulah kelompok-kelopok yang ingin menjatuhkan dirinya.

“Tidak perlu saya bilang-bilang sumpah, tapi dapat saya tegaskan tidak pernah ada teriakan rasisme atau apapun yang keluar dari mulut saya. Saya gaptek, (gagap teknologi–red) tapi saya yakin kalau status itu telah diplintir, disebar tapi sudah ditambah-tambahin kata-kata yang provokatif,” katanya, dilansir Rolling Stone Indonesia.

KGP mengaku secara tulus ingin memajukan musik metal di Bogor. Dia menduga ada pihak-pihak yang sirik karena dia bisa mengundang band mahal dengan tiket murah tanpa sponsor tetapi malah di­-bully dengan menyebarkan hal yang tidak benar.