Home Berita Pilihan Kota Hujan Bogor Krisis Air, Penyakit Mulai Merebak

Kota Hujan Bogor Krisis Air, Penyakit Mulai Merebak

SHARE
Foto krisis air di Bekasi, Senin (20/7). (foto: Tempo)
Foto krisis air di Bekasi, Senin (20/7). (foto: Tempo)

Bogor – Puluhan ribu warga Bogor makin kesulitan air akibat kemarau panjang. Warga terpaksa mendayagunakan air sungai untuk mencuci dan mandi.

Namun, penyakit kulit dan gatal-gatal menyerang warga dikarenakan kualitas air sungai yang buruk. Amar, warga Kampung Leuwi Jati, Desa Sukanagara, Kecamatan Jonggol, Kabupaten Bogor, pada Jumat (24/7) mengatakan bahwa air sumur di tempatnya sudah kering. Mereka terpaksa MCK dengan air sungai.

“Tapi badan kami terkena penyakit gatal di kulit,” ungkap Amar, dilansir Tempo.

Amar dan keluarganya terserang penyakit kulit dan diare. Mereka dan hampir seluruh warga memanfaatkan aliran Sungai Cipamingkis yang berdebit air kecil dan berkualitas buruk.

Amar mengatakan, warga kampungnya belum mendapatkan bantuan air bersih dari Pemkab Bogor. Selain air bersih, warga Leuwi Jati berharap pemerintah segera memberikan pengobatan gratis.

Warga Waru Doyong, Desa Lulut, Kecamatan Citeureup juga harus bersusah payah mendapatkan air dari sumber air Cukukulu. Hal ini dikarenakan sambungan pipa air bantuan PT Indocement Tunggal Prakasa tidak mengeluarkan air.

Acim, penduduk Waru Doyong, mengatakan bahwa mereka harus menggunakan motor untuk mendapatkan satu jeriken air bersih dari mata air Cikukulu.

Budi Aksomo, Kepala Pelaksanaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Bogor, mengakui bahwa pendistribusian air bersih belum merata. Walaupun sudah mendapatkan bantuan dari PDAM dan PMI, armada truk tangki air masih terbatas.

“Saat ini, sudah 43 desa di 15 kecamatan yang mengalami krisis air bersih. Bantuan air masih terus kami lakukan walau tidak merata,” Budi menjelaskan.