Home Berita Pilihan Hotel dan Apartemen Ancam Ketersediaan Air di Bandung

Hotel dan Apartemen Ancam Ketersediaan Air di Bandung

SHARE
Ilustrasi (foto: http://surf16.com)
Ilustrasi (foto: http://surf16.com)

Bandung – Kabid Rehabilitasi Lingkungan Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Kota Bandung, Ayu Sukenjah, mengatakan bahwa hotel dan apartemen di Kota Bandung yang terus bertambah mengancam ketersediaan air.

Kebutuhan air domestik atau rumah tangga adalah sekitar 20 liter per orang per hari. Tamu hotel juga diasumsikan menggunakan air sebanyak itu.

Pada perbincangan di kampus Universitas Padjadjaran Bandung, Jumat (28/8) kemarin, Ayu mengakui bahwa pertumbuhan ekonomi Bandung naik dengan banyaknya jasa hotel. Namun, hal tersebut mengancam ketersediaan sumber daya air.

Pembangunan apartemen juga meningkatkan konsumsi air. Jika pengelola apartemen menyewakan kamar, hitungan konsumsi air sama dengan penyewa kamar hotel. Demikian pula jika dihuni pemilik, harus diketahui apakah tergolong kelas domestik atau rumah tangga agar mengetahui jumlah konsumsi air.

Menurut Ayu, hotel menggunakan air tanah atau membeli dari PDAM sebagai sumber airnya. Untuk hotel baru, perizinan yang berlaku mewajibkan pemilik membuat tangki sendiri jika PDAM tidak sanggup memasok air lewat kiriman tangki atau sambungan pipa.

Peta zona kerawanan sumber daya air menjadi salah satu pengendalian izin pembangunan hotel. BPLH Kota Bandung mencatat lima kelurahan mengalami krisis air; Kelurahan Dungus Cariang, Kecamatan Andir; Kelurahan Pasir Biru dan Cisurupan di Kecamatan Cibiru, Pamoyanan Kecamatan Cicendo, dan Pasirluyu Kecamatan Regol saat musim kemarau ini.

Herman Muchtar, Ketua Badan Pimpinan Daerah Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Jawa Barat, mengatakan bahwa izin pembangunan hotel dari wali kota sebelumnya menyebabkan pembangunan hotel terus meningkat. Akhir tahun ini, Bandung akan memiliki 30.000 kamar, naik 6.000 dari saat ini. Jumlah itu setara dengan sekitar 500 hotel.

Sementara hotel-hotel tersebut mendapat pasokan air dari air tanah yang berizin dan membeli dari PDAM. Beberapa hotel-hotel tersebut mengalami kesulitan air di musim kemarau ini.

“Harusnya pemerintah telah memperhitungkan lokasi dan debit air, tidak mudah memberi izin,” katanya, dilansir Tempo.

Herman menyarankan pengelola hotel mendaur ulang air yang dipakai dan membuat tangki penampungan air hujan. Dia meminta pihak hotel menghemat air.