Home Gaya Hidup Dorong Masyarakat Berkunjung ke Museum dengan Mengubah Pola Pikir

Dorong Masyarakat Berkunjung ke Museum dengan Mengubah Pola Pikir

SHARE
Museum Angkut (foto: museumangkut.com)
Museum Angkut (foto: museumangkut.com)

Jakarta – Nunus Supardi, pakar seni dan budaya, menyampaikan beberapa pendapatnya mengenai kurangnya kesadaran masyarakat berkunjung ke museum pada seminar “100 Tahun Pelukis Basoeki Abdullah” di Museum Nasional, Jakarta, Senin (28/9). Menurutnya, pola pikir masyarakat tentang museum harus diubah.

“Saat ini museum identik di masyarakat sebagai tempat menyimpan barang kuno. Yang harus ditanamkan adalah museum bisa menyimpan benda apa saja,” kata Nunus, dilansir Berita Satu.

Nunus menyatakan bahwa penerapan pola pikir baru ini merupakan salah satu cara efektif untuk meningkatkan kunjungan museum. Kunci penerapannya adalah melalui pendidikan di sekolah dan di rumah sehingga generasi penerus mempunyai pola pikir yang benar tentang museum.

“Pendidikan di keluarga atau di rumah misalnya dimulai dengan mengajarkan anak-anak untuk mengoleksi barang-barang yang cukup bersejarah buat dirinya. Dari situ akan timbul rasa menghargai benda-benda bersejarah,” tutur Nunus.

Ketua Departemen Film-Budpar PWI, Yusuf Susilo Hartono, mengkritisi candaan orang yang sering menggunakan kata-kata museum untuk merujuk kepada hal-hal yang sudah selesai fungsinya. Misalnya saja, candaan “barangnya sudah dimuseumkan”.

Candaan-candaan tersebut membuat orang semakin malas datang ke museum. Padahal, pengelola museum dan masyarakat harus berupaya mengaktualisasi museum agar jumlah pengunjung naik.

Meskipun jumlah pengunjung museum masih dirasa kurang tinggi, sebenarnya, menurut data Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, jumlah pengunjung meningkat pada 2014. Pada tahun 2010, hanya ada 2,5 juta orang Indonesia per tahun yang mengunjungi museum. Pada 2014, jumlah ini meningkat menjadi 12,5 juta orang datang ke 328 museum yang ada di Indonesia.