Home Bola UEFA Gianni Infantino Resmi Menjadi Presiden FIFA 2016-2019

Gianni Infantino Resmi Menjadi Presiden FIFA 2016-2019

SHARE

Gianni Infantino resmi menjadi Presiden FIFA yang baru untuk periode 2016-2019 setelah berhasil mengalahkan lawannya, Sheikh Salman, dalam pemilihan Presiden FIFA yang diadakan pada Jumat (26/2). Gianni Infantino resmi menjadi Presiden FIFA menggantikan Sepp Blatter. Sebelum menjadi Presiden FIFA, Infantino menjabat sebagai Sekjen UEFA.

Selain Sheikh Salman, Infantino harus bersaing melawan Pangeran Ali bin Al-Husein, Jerome Champagne, dan Tokyo Sexwale. Kandidat terakhir, Sexwale, tiba-tiba mengundurkan diri setelah menyampaikan visi dan misinya di depan Kongres Luar Biasa FIFA.

Praktis hanya 4 orang saja yang bertarung di bursa pemilihan presiden FIFA tersebut. Hasil pemilihan Presiden FIFA sebagai berikut: Jerome Champagne berhasil mengumpulkan 7 suara, Pangeran Ali 27 suara, Sheikh Salman 85 suara, dan Gianni Infantino 88 suara.

Dari hasil tersebut, belum ada pemenang mutlak atau memperoleh 2/3 total suara. Maka dari itu, pemilihan Presiden FIFA putaran kedua digelar. Kandidat yang bertarung adalah Sheikh Salman dan Gianni Infantino. Mereka harus mendapatkan suara lebih dari 50%.

Pemilihan putaran kedua dimenangkan oleh Gianni Infantino yang mendapatkan dukungan dari mayoritas negara-negara UEFA. Dia berhasil memperoleh 115 suara, mengalahkan Salman yang hanya memperoleh 88 suara. Dengan hasil tersebut, Infantino resmi menjadi Presiden FIFA yang baru periode 2016-2019.

Infantino adalah tokoh penting UEFA. Dia sering menelurkan gagasan revolusioner. Dia bukahlan sosok yang asing di dunia sepak bola.

Gianni Infantino menggagas perubahan skema Piala Eropa 2020 yang akan digelar di 13 negara. Dia juga menyuarakan sebuah konsep untuk Piala Dunia 2026 yaitu mengikutkan 40 negara peserta.

Dalam pidato kemenangannya, Infantino bangga terhadap FIFA dan bangga dengan hal-hal yang akan dia lakukan bersama FIFA. Organisasi sepak bola dunia itu telah melewati masa-masa sedih dan krisis. Dia ingin mengembalikan citra FIFA setelah sempat dirundung masalah korupsi.