Waspada Penculikan Anak!

Waspada Penculikan Anak!

SHARE
Ilustrasi penangkapan
Ilustrasi penangkapan

Jakarta – Kasus penculikan anak disertai dengan penjualan organ tubuh marak diberitakan akhir-akhir ini. Para penculik tersebut menyamar sebagai pengemis, orang gila, atau gelandangan dan beroperasi di berbagai wilayah di Indonesia.

Menanggapi kabar ini, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Yohana Susana Yembise, meminta semua lapisan masyarakat mewaspadai bersama. Tindakan yang dilakukan para penculik anak itu adalah bentuk dari Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPRO).

Kabar berita ini telah dikonfirmasi pihak kepolisian bahwa merupakan kabar yang tidak benar. Orang-orang yang tidak bertanggung jawab menyebarkan informasi palsu ini melalui pesan singkat dan media sosial. Meskipun hingga saat ini kabar tersebut disinyalir tidak benar, sudah ada beberapa orang yang nyaris tewas karena dihakimi warga. Mereka diamuk massa karena dicurigai sebagai pelaku penculikan anak.

Yohana berpesan, kewaspadaan masyarakat harus memastikan kebenaran informasi yang didapat terlebih dahulu.

“Terbukti atau tidaknya kebenaran kabar ini, saya sangat menyayangkan tindakan main hakim sendiri yang dilakukan oleh warga sekitar dalam menangani kasus yang terjadi. Saya mengimbau seluruh masyarakat agar dapat menyikapi pemberitaan ini dengan lebih menyaring terlebih dahulu sebelum memastikan kebenaran informasi yang beredar di masyarakat serta dapat menyampaikan pesan atau informasi melalui media sosial sesuai dengan fakta,” kata dia, dilansir Berita Satu.

Anak-anak harus terus didampingi dan dilindungi oleh orang tua, orang terdekat, dan seluruh masyarakat agar terhindar dari ancaman modus baru penculikan. Ketika ada tindakan kejahatan terhadap anak, masyarakat diminta untuk tidak takut melaporkannya.

Menurut UU No. 21 tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang, seluruh TPPO dengan tujuan eksploitasi ekonomi untuk mendapatkan keuntungan dapat dikenai sanksi pidana penjara paling singkat 3 tahun dan paling lama 15 tahun. Selain itu, pelaku dapat dikenai dengan paling sedikit Rp120 juta dan paling banyak Rp600 juta.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY