Home Peristiwa Bencana Alam Lahan Kritis di Jawa Semakin Mengkhawatirkan, Wacana Rehab Mencuat

Lahan Kritis di Jawa Semakin Mengkhawatirkan, Wacana Rehab Mencuat

SHARE
Ilustrasi Lahan Kritis
Ilustrasi Lahan Kritis

Jakarta – Lahan tidak produktif atau disebut juga lahan kritis di Pulau Jawa semakin mengkhawatirkan dari tahun ke tahun. Saat ini, lahan kritis di Jawa mencapai 2.128.680 hektare atau sekitar 15% dari total lahan kritis di Indonesia.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mewacanakan rehabilitas besar-besaran terkait lahan kritis ini.

“Sekarang kita lihat rehabilitasi intensif sedang dilakukan. Tahun-tahun depan kita akan rehab besar-besaran,” kata Pelaksana Tugas Direktur Perencanaan, Evaluasi, dan Perencanaan Daerah Aliran Sungai (PEPDAS), Yuliarto Joko Putranto, kepada CNN Indonesia, Kamis (5/7).

Di Indonesia, lahan yang berstatus sebagai lahan kritis ada sebanyak 14 juta ha. Pulau Sumatra memiliki lahan kritis seluas 4,5 juta ha, Pulau Kalimantan 2,8 juta ha, Pulau Sulawesi 1,8 juta ha, Pulau Papua 975 ribu ha, Bali & Nusa Tenggara 958 ribu ha, dan Maluku 687 ribu ha.

Yuliarto yang juga menjabat sebagai Sekretaris Dirjen Pengendalian Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung (PDASHL) mengatakan bahwa Pulau Jawa harus diperhatikan lebih khusus karena secara geomorfologi daerah tersebut rentan lahan kritis. Seperti diketahui, banyak gunung api di Pulau Jawa. Tanah di daerah hulu DAS di Pulau Jawa adalah tanah vulkanik yang peka terhadap erosi.

Selain penyebab kondisi geologis, pertumbuhan penduduk yang tinggi di Pulau Jawa juga berpengaruh terhadap penambahan lahan kritis. Pembukaan jalan membuat lahan kritis semakin bertambah.

Yuliarto menyebutkan bahwa dataran tinggi Dieng yang merupakan kawasan vulkanik aktif di Jawa Tengah adalah salah satu lahan paling kritis di Jawa. Selain merupakan kawasan vulkanik, Dieng juga kaya akan budi daya tanaman sayur.

Daerah Lembang dan Garut di Jawa Barat juga terancam lahan kritis. Di kawasan-kawasan tersebut, muncul tanaman holtikultur di lanskap yang seharusnya difungsikan sebagai vegetasi tanaman hutan dan tanaman kebun. Akan tetapi, lahan-lahan di daerah tersebut justru dibuka lahannya untuk usaha tani dan tanaman musim.

Salah satu dampak lahan kritis adalah erosi (pengikisan tanah). Erosi menyebabkan kesuburan tanah hilang dan produktivitas menurun.

Pengkisan tanah akan menyebabkan pengendapan tanah di sungai-sungai. Lama-kelamaan, pengendapan tanah akan menyebabkan bajir. Vegetasi yang semakin berkurang juga meningkatkan aliran run off penyebab banjir.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here