Home Gaya Hidup Pariwisata Naik Kereta Api Lodaya, Satu Cara Backpacker-an Murah dari Solo ke Bandung

Naik Kereta Api Lodaya, Satu Cara Backpacker-an Murah dari Solo ke Bandung

SHARE

Naik Kereta Api Lodaya, Satu Cara Backpacker-an Murah dari Solo ke Bandung

Bandung, terkenal dengan sebutan “Paris van Java”, adalah salah satu kota di Indonesia yang tetap mempertahankan suasana klasik sekaligus mengintegrasikan gaya modern. Saya mengenal kota ini sebagai tempat wisata paling romantis di negeri ini. Suasana sejuk dan segar yang dipadukan dengan atraksi wisata nostalgia era kolonialisme memang semakin memudahkan saya untuk mengasosiasikan Kota Kembang ini sebagai kota penuh cinta.

Minggu lalu, saya menyempatkan diri untuk mengambil cuti liburan ke Kota Bandung. Saat itu, saya berniat kulineran di sekitar Jalan Asia Afrika. Sebelum packing, sudah terbayang rasanya menikmati gepuk, mie Bandung, hingga batagor kesukaan saya. Setelah membereskan pekerjaan, saya memutuskan untuk membeli tiket Kereta Api Lodaya Solo-Bandung. Saya memang menyukai moda transportasi kereta api yang murah, bebas hambatan, dan cepat sampai.

Kereta Api Lodaya merupakan KA penumpang jarak jauh yang menawarkan Kelas Eksekutif dan Ekonomi AC Premium (Reguler) dan Kelas Eksekutif dan Bisnis (Tambahan). Angkutan kereta api massa Lodaya menghubungkan antara Stasiun Solobalapan dan Stasiun Bandung Hall. Secara pribadi, saya mengapresiasi KAI yang menyediakan dua kereta Lodaya yaitu Lodaya pagi dan Lodaya malam. Ini benar-benar sangat membantu mobilitas warga baik untuk keperluan wisata maupun untuk keperluan sehari-hari. Lodaya Pagi berangkat dari Stasiun Solobalapan pukul 07.10 WIB dan sampai di Stasiun Bandung Hall pukul 15.48 WIB. Sementara itu, Lodaya Malam berangkat dari Stasiun Solobalapan pada pukul 19.10 WIB dan sampai di Stasiun Bandung Hall pukul 04.15 WIB. Untuk jadwal kereta Bandung selengkapnya, Anda bisa cek biaya naik kereta ke Kota Kembang di Traveloka.

Sekadar informasi untuk Anda, Kereta Lodaya menyediakan beberapa fasilitas tergantung kelas yang Anda pilih. Fasilitas utama KA Lodaya adalah AC, toilet, stop kontak, meja kecil, dan TV. Sedangkan untuk kelas Eksekutif, kursi penumpang lebih nyaman karena lebih empuk, kursi belakang bisa disesuaikan, kursi bisa diputar, dan memiliki pijakan kaki. Kelas ini juga menyediakan selimut dan bantal di setiap kursi penumpang. Apabila Anda lapar, Anda dapat memesan makanan dari pelayan kereta atau langsung ke kereta makan.

Usai tiba di Stasiun Bandung Hall, saya memutuskan untuk beristirahat sebentar di stasiun. Bahkan stasiun kereta api di Bandung pun bisa menarik wisatawan. Terletak di perbatasan antara Pasir Kaliki dan Kebon Jeruk, Stasiun Bandung Hall adalah stasiun kereta api terbesar di Provinsi Jawa Barat. Stasiun tersebut menghubungkan Kota Bandung dengan kota-kota lain di Pulau Jawa. Selain fungsi utamanya sebagai stasiun kereta api, Stasiun Hall juga populer sebagai stasiun transportasi umum di Bandung. Lokasinya mudah dijangkau dari setiap titik kota sehingga saya dapat dengan mudah langsung memesan angkutan yang membawa saya ke Jalan Asia-Afrika.

Jalan Asia-Afrika dibangun pada tahun 1811 oleh Gubernur Jenderal Marschalk Herman Willem Daendles. Jalan tertua di Kota Bandung ini berawal dari depan Kantor Dinas Bina Marga Provinsi Jawa Barat. KM 0 Bandung alias pusat kota Bandung juga berada di sini. Sebelum bernama Jalan Asia-Afrika, tempat yang sangat rekomended untuk menghiasi instagram feed Anda ini memiliki nama Groote Postweg (Jalan Raya Pos).

Kawasan simpang lima hingga Jalan Asia-Afrika kini dikenal sebagai pusat Kota Tua di Bandung. Gedung-gedung peninggalan masa kolonial Belanda masih berdiri tegap seperti gedung Kantor Pos Besar, Gedung Nedhandel NV, Gedung Jiwasraya, bekas Toko de Vries, Savoy Homann Bidakara Hotel, bekas apotik De Voor Zorg, Gedung Singer, dan masih banyak lagi.

Sewaktu saya berjalan-jalan di sini, saya tidak hanya bisa menyaksikan pemandangan romantis khas Kota Bandung tetapi juga kehidupan urban metropolitan. Gelombang budaya populer yang merasuki anak-anak muda terlihat dari beragam street show seperti cosplay, fashion show on the street, dan musisi jalanan. Tentunya, tidak lupa saya mengabadikan kehidupan jalanan Kota Bandung beserta bangunan tuanya. Sungguh merupakan dua hal berbeda yang tetap berjalan harmonis.

Merasa lapar, saya kemudian beranjak mencari kuliner. Kala itu, saya memutuskan untuk menghapus kekangenan saya terhadap gepuk Bandung. Gepuk adalah masakan dari daging sapi yang diiris searah dengan serat daging. Setelah itu, gepuk diolah dengan cara direbus setengah matang, dipukul-pukul hingga tipis, kemudian diikat atau ditusuk sate supaya daging tidak hancur. Daging sapi itu lalu direndam ke dalam bumbu santan hingga terserap. Setelah itu, daging direbus kembali bersama dengan santan hingga santan menyusut. Terakhir, gepuk digoreng dengan menggunakan sedikit minyak. Saya memutuskan untuk membeli gepuk terkenal yang dijual di Jalan Pasar Kaliki No. 96. Tak lupa, saya membawa beberapa dus gepuk untuk oleh-oleh keluarga di Solo.

Ketika saya pulang kembali ke Solo, saya kembali naik KA Lodaya. Kali ini, saya memilih KA Lodaya malam yang berangkat pukul 18.55 WIB. Usai mem-booking  tiket melalui aplikasi Traveloka, saya membayar tiket seharga Rp140.000,00 itu melalui transfer bank. E-ticket yang saya dapatkan via email adalah dokumen yang valid untuk diproses di stasiun bersangkutan.

Itulah cerita singkat pengalaman saya backpacker-an ke Bandung untuk sekadar mengunjungi Kota Tua di Bandung dan kulineran. Simak cerita-cerita perjalanan lainnya di Nusantaran, Portal Berita Terlengkap Seputar Nusantaran dan Dunia.